Jumat, 14 Agustus 2009

Saya dan Mangga Muda




Sejak kecil saya sudah senang sama yang namanya mangga muda. Warnanya yang hijau…aromanya yang khas, kulit dagingnya yang berair…selalu saja mengundang selera. Jika ada yang memberi pilihan untuk saya apakah mending dikasih mangga muda atau mangga mateng yang harum dan manis, maka sudah pasti saya menjawab: “mangga muda please…” :)

Entahlah kenapa saya sukaaa sekali sama mangga muda. Mungkin karena dulu beberapa tahun saya sempat di asuh bibi (adik ibu) yang ketika itu masih gadis, sementara orangtua beserta adik saya merantau ke pulau seberang. Nah, bibi saya ini senang sekali mangga muda, berawal dari sanalah saya mulai ikut-ikutan suka. Seingat saya dulu, mamah (panggilan saya ke ibu)begitu cerewet dan ekstra hati-hati kalau saya makan mangga muda, karena sejak kecil dulu saya sering sakit-sakitan. Ketika SD hampir setiap kenaikan kelas, setelah ujian, saya sakit. Maag dan Thypus saya, sering kambuh. Badan saya kerempeng, tinggi dan item hehee…pokoknya UDIN deh, Udah Dekil Item, idup lagi :) Wajar jika mamah marah besar kalau ketahuan saya nekad makan mangga muda.

Tapi, seperti kata orang-orang bilang, semakin dikekang, semakin gak boleh, saya malah semakin menjadi-jadi sukanya. Terlebih saya sering berkomplot dengan adik dan teman-teman tanpa sepengetahuan mamah. Adik saya misalnya menyelundupkan mangga muda dari temen untuk saya makan ketika masih terbaring sakit. Atau diam-diam dia ambil mangga muda bibi untuk diberikan pada saya. Tentu saja saya senang, bayangkan, lagi sakit, makan apapun rasanya pahit…eneg,pengennya yang seger-seger…bagi saya apalagi kalau bukan mangga muda itu. Sering persekongkolan kami terbongkar, sampai mungkin karena saking jengkelnya, mamah menghadiahi kami tamparan di kaki kami. Tapi kami gak jera tuh…

Karena melihat anaknya masih saja sering nyuri-nyuri makan mangga muda di belakangnya, dan baru ketahuan kalau maagnya udah kambuh, akhirnya mamah menyerah dengan syarat: Harus sudah makan, jangan malem-malem, jangan banyak-banyak…dan jangan dapet nyolong hehee…

Sayapun setuju. Mulai saat itu, hobi saya makan mangga muda semakin menjadi…tapi kali ini lebih bertanggungjawab (cailee…), saya tidak mau menghianati kepercayaan mamah. Dan terlebih…saya tidak ingin diancam somasi yang ujungnya kemerdekaan saya untuk memakan mangga muda kesukaan saya itu terampas.

Ada banyak kisah yang mengiringi seputar mangga muda ini. Mulai dari selalu berusaha menjalin persahabatan dengan teman yang mempunyai pohon mangga biar ketika maen ke rumahnya atau ketika panen, bisa kebagian…hehe. Jangan bilang saya memanfaatkan ya, karena ini simbiosis mutualisme kok…karena dari cerita-cerita dan harapan saya, dia jadi lebih bersyukur : “Alhamdulillah…saya punya pohon mangga, saya bisa berbagi dengan teman, dan kalau mau ngerujakpun tinggal ngambil…gak perlu keluar modal. Alhamdulillah…Alhamdulillah…” (ngeles).

Sekali waktu saya diajak orangtua ke saudara jauh. Ketika melihat di depan rumahnya ada pohon mangga yang sedang berbuah, hati saya terkesiap…lansung ngences! Dan sayapun berbisik ke mamah untuk memintakan mangga kepada si empunya rumah. “Oh, belum pada mateng…masih kecil-kecil”, katanya sambil tersenyum. Saya langsung menjawab : “saya lebih suka yang kecil-kecil kok, yang masih muda”. “Tapi kan asem” (maksudnya mungkin sayang kalau diambil). “justru saya suka yang asem”. Akhirnya kami pun pulang dengan membawa beberapa mangga muda yang masih mengeluarkan getah dari pangkal buahnya.

Yang lebih seru, Jika kebetulan saya lewat di depan pohon mangga yang berbuah…saya tak bisa menahan diri untuk mendongak ke atas…kea rah mangga yang masih hijau segar. Kemudian mata saya mengarah ke bawah, ke sekitar pohon, mencari-cari siapa tau apa ada mangga yang masih agak kecil-kecil jatuh. Dan ketika menemukan itu, walau hanya setengah kepalan tangan, saya memungutnya, betul-betul memungutnya! dengan hati yang seakan-akan mendapat hadiah istimewa dari seseorang.

Oya, teman-teman dan sahabat-sahabatku, ketika saya berbicara tentang mangga muda, yang harus anda bayangkan adalah…yang fresh langsung dari pohonnya (terlihat dari leleran getah di pangkal buahnya dan kulitnya masih hijau mulus), yang bau harum khas mangga mudanya masih menyengat, dan ini yang penting…jika dipotong dua, biji buahnya ikut ke potong dan daging buahnya putih segar. That’s ideal.

Eum…saking seringnya saya memakan permacam-macam jenis mangga muda…--walaupun saya tak tau banyak soal nama-namanya--saya jadi tau apakah buah ini masih muda atau tidaak…kalau dipotong, bijinya masih bisa ikut kepotong atau sudah keras. Saya bisa tau itu hanya dengan melihat bentuk buah dan warna kulitnya saja. Hebat ya hihihiii…

Beranjak dewasa, ketika kuliah, ketika saya mulai mempunyai uang saku sedikit dari hasil mengajar dan memberikan les privat, saya terkadang ke pasar sendiri mencari mangga muda. Sering si penjual iseng bertanya : lagi hamil muda ya bu…”. Mungkin karena melihat jubah yang saya pakai, saya hanya menjawabnya dengan senyum.

Itu dulu, sebelum saya menikah. Setelah menikah, hobi saya ini semakin menjadi. Tau dong kenapa…Ya, selain badan saya mulai ndut dan melebar, saya sudah terhindar dari maag dan thypus (konon itu penyakitnya orang-orang kurus), suamipun rela mengantar ke pasar dan mengeluarkan uangnya untuk memanjakan istrinya dengan mangga muda dan buah-buahan asem yang lain seperti huni (buni), dan kupa (gowok). Kalau sudah begitu, saya merasa orang paling kaya di dunia…hehee

Ada yang bilang ketika hamil karena factor hormonal, kita kadang agak bertingkah aneh. Makanan kegemaran malah justru jadi bikin kita eneg. Wewangian menjadi seakan berubah bau yang menyengat ketika kita cium. Malah ada cerita temen yang jadi sebel dan gak mau deket-deket sama suaminya. “bau” katanya. Nah, yang paling lumrah adalah seseorang yang ketika belum hamil gak suka sama yang asem-asem seperti sayur asem, nasi asem, opor asem dan (maaf) ketek asem (itumah kayaknya semua orang juga gak suka ya…kecuali sayur asem tentunya), jadi suka mangga muda yang asem. Jadi doyan ngerujak. Nah dengan analogi terbalik, seseorang yang ketika belum hamil sangat seneng mangga muda yang asem, ketika hamil siapa tau jadi gak suka lagi, malah pengen yang manis-manis. Begitu teman-teman dan sahabat saya berspekulasi tentang saya. Benarkah?

Di tahun kedua pernikahan, saya Alhamdulillah hamil. Dan ternyata…analogi terbalik itu salah. Kegemaran saya sama yang asem-asem semakin menjadi. Dan itu di dukung oleh si bibi sayur langganan kami. “Bi, pokoknya kalau nemu yang asem-asem di pasar, bawa aja, pasti saya beli” janji saya. Si bibi pun sumringah. Hampir setiap hari ada saja buah-buahan asem yang di bawanya…kadang kedondong, mangga muda aneka jenis, mericin (sejenis dukuh tapi asem), kementeng, huni (buni), atau kupa (gowok). Dan yang lebih parah lagi, ketika buah-buahan di atas gak ada, si bibi bawain saya jatake(buah gandaria) muda, yang biasanya dipakai untuk campuran sayur asem sebagai pengganti asam jawa.

Anehnya, saya kurang suka petisan, walaupun bukan berarti gak suka. Buah-buahan itu lebih sering saya makan cukup dengan atau tanpa garam. Setelah di cuci, saya kupas, dan langsung di makan. Tak jarang setelah makan saya menjadikannya sebagai desert. Bahkan ketika hamil, buah-buahan itu saya konsumsi anytime…pagi, siang, sore bahkan malem.

Awalnya agak khawatir juga si jabang bayi nanti takut bermasalah dengan lambungnya. Untuk itu saya berusaha imbangi juga dengan makanan bergizi dan susu ibu hamil. Alhamdulillah tidak ada masalah. Badan saya dan bayi saya bertambah tiap bulannya. Udah kayak gajah bengkak deh. Dengan berat badan 66kg saya melahirkan bayi 3,5kg. Emaknya gendut, anaknyapun gendut dan sehat, Alhamdulillah.

Kembali ke mangga muda, sampai sekarangpun hobi saya masih. Hanya saja, sekarang musti agak sembunyi-sembunyi…tau emaknya ngupas mangga muda, Faaza suka mendekati dan minta bagian “dikiiit aja mi…” katanya. Like mother like son hehee.

Tetangga-tetangga saya dulu sudah hafal tentang hobi saya ini. “kalau mau yang asem-asem, di umi mah pasti ada aja”. So, teras saya sering dijadikan ibu-ibu sebagai basecamp untuk mencicipi petis mangga muda atau asinan buah saya. :) Sampai-sampai salah seorang tetangga saya bilang begini: “kalau ada pertandingan lomba memakan mangga muda dalam satu menit, umi Faaza pasti yang menang…”. Ketika saya tanya kenapa sampai seyakin gitu, tetangga sekaligus sahabat saya itu menjawabnya:” karena umi mah makan nya juga teu kireum-kireum…gak kayak yang keaseman…gak kayak orang lain!”, katanya dengan sangat yakin. What?? :)

Ada lagi satu cerita menarik tentang mangga muda ini. Sebagaimana di komplek umumnya…dari pagi hingga malam, jalan di depan rumah tidak pernah sepi oleh lalu lalang penjual keliling. Mulai dari penjual sayur, siomay, BKI alias bubur kacang ijo, bubur ayam, batagor, mie ayam, dan…tukang rujak. Nah ini yang hampir tidak pernah saya lewatkan. Sambil membelikan Faaza sepotong pepaya atau melon, saya liat tempat buah-buahannya, kalau ada mangga muda, baru saya beli rujak. Apalagi kalau yang lewat tukang rujak langganan, tak jarang saya hanya membeli beberapa mangganya saja. Tapi karena sebenarnya tidak diperuntukan untuk dijual terpisah seperti itu, beberapa buah mangga tersebut saya beli dengan harga cukup mahal jika dibandingkan membeli sendiri di pasar. Suatu kali…(nah ini ceritanya), kelompok pengajian yang saya pimpin--terdiri dari 5 orang ibu-ibu, yang salah satunya tengah hamil muda--ngaji di rumah. Selepas kajian, sambil berbincang-bincang hangat, saya dengan bersemangat mengabarkan bahwa saya punya mangga muda dari penjual buah…”mau gak bu”, tanya saya ke seorang ibu yang tengah hamil muda, sambil mengambil mangga tersebut dari dalam kulkas. Ketika ketiga mangga yang masih kecil-kecil itu saya sodorkan, salah satu ibu-ibu hampir berteriak histeris “Ya ampun neng…itu mah bukan mangga muda tapi pentil, di rumah teh Ela mah mohon maaf, biasanya dibuangin…emang neng beli berapa dari tukang buah itu, tau eneng suka mah nanti teh Ela kasih deh mangga mudanya”. Glekk! Tapi sejak saat itu, pasokan mangga muda saya semakin banyak. :)

Dan di sini, diperantauan saya sekarang, Alhamdulillah saya bisa dengan mudah menemukan mangga muda, bahkan yang kecil-kecil. Walaupun harga 1kg nya kalau dirupiahkan bisa untuk membeli 8kg mangga yang sama. Terlebih, salah seorang sahabat saya menempati sebuah villa, yang kebetulan ada pohon mangganya (jarang-jarang lho…),dan kemarin, sekitar sebulan yang lalu, ketika berkunjung ke rumahnya, saya dihadiahi sekantung mangga muda. Ah, Mungkin itu juga salah satu sebab kenapa saya betah mendampingi suami di tanah rantau berpuluh-puluh ribu kilo jauhnya dari tanah air.

So, bagi saya, mangga muda adalah sesuatu yang sensitive. Jangan bilang-bilang anda mempunyai mangga muda kalau gak akan ngasih saya, hehee. Mangga muda membuat saya merasa lebih bersemangat, dan segar. Jika stok mangga muda saya habis, saya pasti meminta suami untuk mengantar saya ke toko yang biasa menjualnya. Ketika sudah ada ditangan, saya hisap wangi khasnya, saya bersihkan, saya kupas, dan Subhanallah…saya merasakan satu lagi nikmat Allah…Ada syukur saya padaNya, dalam setiap potongannya….

“Rabbanaa maa khalaqta haadza bathilaa...”


Qatar, 12 Agustus 2009

Rabu, 05 Agustus 2009

Islam Bukan Hanya Arab



Assalamu’alaikum wr. Wb

Sahabat dan teman-temanku…
Banyak yang ingin saya utarakan di sini, terutama tentang kegundahan hati ketika membaca beberapa berita yang ada. Tapi saya konsentrasikan pada satu hal saja dulu. Sumbernya saya tulis di sini:
http://gayahidup.liputan6.com/berita/200907/238920/Jelang.Ramadan.London.Siap.siap.Sambut.Wisatawan.Arab

Sebelumnya saya sampaikan, bahwa yang akan saya utarakan di sini bukan untuk membanding-bandingkan atau membuat citra jelek pada negara tertentu. Saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk merenung tentang sebagian potret kaum muslimin sekarang ini.

Hidup di perantauan, beribu-ribu mil jauhnya dari kampung halaman membuat kesan tersendiri untuk saya. Selain lebih mandiri (semua dilakukan tanpa ada asisten) juga saatnya untuk belajar bergaul dengan bermacam etnis yang ada.

Negara tempat kami tinggal sekarang, merupakan salah satu negara yg multikultur. Kita bisa menemukan orang dari semua benua di sini. Jumlah pribuminya hanya sekitar 20% dari total jumah penduduk. Sehingga, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Inggris.

Kesan multicultural akan lebih terasa sekali terutama kalau kita sedang berjalan-jalan di mall. Saat pertama, saya sempat takjub melihat suasana yang ada. Kemewahan bangunannya bisa melupakan bahwa kita ada di negeri tandus. Pengunjung dengan berbagai warna kulit, bahasa dan cara berpakaian membuat kita tidak bosan menatap. Wahai…wanita-wanita dengan busana hitam bercadar dan para lelaki dengan jenggot panjang dan memakai jubah putih serta bersorban kepala yang khas, di sini begitu biasa terlihat. Sama sekali tidak ada kesan angker, ekstrimis apalagi teroris seperti yang di image-kan di Indonesia kepada orang-orang yang berpakaian seperti itu. Mereka malah dengan asyiknya berbelanja, makan makanan fast food dan duduk santai di café kelas atas untuk sekedar minum kopi yang harga satu cangkirnya saja bisa untuk sekali belanja bulanan di Indonesia. Oya, jangan aneh kalau di sini kita biasa melihat orang berbelanja se-trolly penuh. “seperti mau buka warung” kelakar seorang teman. 

Dan wahai lihatlah…saya benar-benar takjub (miris?) melihat para wanitanya dengan abaya hitam terbelah depan, menampakkan jelana jeans ketat dengan manik-manik dan sepatu tali hak tinggi, komplit dengan make up tebal dan bibir berpoles lipstick merah. Mereka tidak memakai cadar. Dan konon…inilah wanita pribumi, sedikit dari mereka yang memakai cadar. Mereka kelihatan begitu percaya diri, bak seorang aktris, melangkah anggun dengan jubah yang menyapu lantai.

Hati saya bertambah miris ketika menyaksikan di televisi, yang kebetulan bisa menangkap siaran dari berbagai Negara di Timur Tengah, bagaimana artis-artis mereka, film-filmnya, dan nyanyian-nyanyiannya…sungguh banyak yang tidak mencerminkan agama Islam yang mulia. Kenapa saya miris? Karena mereka berbahasa arab, berbahasa Islam yang agung. Ketika ini saya utarakan ke suami, beliau berkata bahwa di Timteng ini tidak semua yang berbahasa arab itu beragama Islam, itu adalah bahasa keseharian mereka. Iya sih…sayapun tau itu, tapi kok tetep miris….

Hal lain yang menggangu benak saya adalah tentang gossip artis Indonesia, seorang vokalis band terkenal, yang diduga melakukan KDRT terhadap mantan Istrinya. Di situs detik.com, di kolom komentarnya ada yang menulis kurang lebih seperti ini : “Nyanyiin lagu-lagu rohani, kelakuan udah kayak orang-orang arab yang nyiksa para TKW…”

Ketika membaca itu, miris…miris hati saya. Saya sakit hati dengan semua itu, saya gak bisa terima. Bagi saya, ajaran Islam begitu mulia…begitu agung karena turun dari Tuhan Pencipta kita, Allah SWT.
Yang saya tau, Islam bukan hanya Arab. Dan Islam tidak bisa diidentikan hanya dengan itu. Orang Arab tidak semuanya beragama Islam seterang orang Islam tidak hanya Arab. Orang Arab tidak bisa dijadikan tolak ukur bagaimana sesungguhnya Islam itu, karena Al Quran dan hadistlah tolak ukur kita. Tidak ada kelebihan bangsa Arab dan bukan Arab kecuali dengan takwanya.

Berikut kutipan Khutbah Rasulullah SAW ketika haji wada:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa”.

Subhanallah, dari dulu sampai sekarang banyak diantara mereka yang hafidz Al Quran dan menjadi ulama dunia yang terkemuka. Tapi saya melihat sendiri, sekarang ini ada juga yang masih tertatih-tatih membaca Al Quran. Memakai busana muslim dan muslimah ada yang memang benar-benar karena kewajiban, ada juga yang hanya sebagai identitas diri. Sering saya satu tempat shalat dengan para muslimahnya, dan sama sebagaimana kita, ada yang shalatnya baik ada juga yang terkesan asal. Allahu’alam, tapi itulah yang terlihat.

Saya jadi teringat yang dikatakan Pak Ustadz ketika pengajian IndoQAPCO. Bahwa Surga itu milik semua…terbuka untuk semua. Bukan milik para ulama, atau para ustadz dan ustadzah, bukan milik yang berjenggot panjang…tapi milik siapa saja yang beriman dan beramal shalih.

Lantas kenapa sekarang bangsa Arab tidak bisa dijadikan lagi tolak ukur keislaman? Padahal tanah mereka adalah tanah para nabi, bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Islam yang agung. Menurut hemat saya setidaknya karena 2 hal. Yang pertama karena ada pencitraan negative dan yang kedua gazwul fikri dan gazwuts Tsaqafi.

Dengan pencitraan negative oleh musuh-musuh Islam, menghasilkan kesan orang-orang Arab itu barbar, militan, ekstrimis, teroris, keji, suka liwath, sering meyiksa dan memperkosa TKW. Dan dengan gazwul fikri dan gazwuts Tsaqafi efeknya lebih parah lagi. Dan menyangkut hampir semua bidang kehidupan. F3 alias Food, Fashion and Fun yang ada di barat, ada juga di dunia Islam. Belum lagi segala bentuk pemikiran-pemikiran baru yang bersumber dari luar Islam mulai diadopsi. Bagaimana mereka menjalankan ekonominya, mengatur negaranya dan bergaul dengan negara-negara tetangganya tidak terlepas dari faham-faham yang dianggap agung oleh barat dan musuh-musuh Islam. Kapitalisme dan sekularisme telah diadopsi oleh hampir seluruh kaum muslimin sekarang ini. Penyakit wahn yang sudah wanti-wanti diingatkan Rasulullah SAW, mulai menjalar tanpa terasa. Umat kian bingung membedakan antara Hadharah dan Madaniah.

Gazful fikr dan gazwuts Tsaqafi ini lebih hebat pengaruhnya bagi umat Islam, karena telah berhasil memisahkan umat dari syaksiah Islamiyahnya. Mereka masih muslim tapi cara mereka bergaul, bermu’amalah, berpolitik dan berfikir ketika mencari solusi atas masalah-masalahnya, rujukannya bukan Islam. Islam hanya menjadi agama ritual saja dan tidak dipakai sebagai konsep untuk menyelesaikan problematika kehidupan.

Sesungguhnya setiap pribadi muslim dituntut untuk mempunyai Syakhsiah Islamiyah (kepribadian Islami), yang terbentuk dari aqliyah Islamiyah (pola fikir yang Islami) dan nafsiyah Islamiyah (pola sikap yang Islami). Mempunyai pemikiran-pemikiran Islami, dan bertingkah laku serta bersikap yang Islami sesuai dengan pemikirannya tersebut. Bahasa sederhananya adalah Ilmu dan amal. “Al Ilmu bilaa ‘amalin kassajari bilaa tsamar” ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah…dan amal tanpa ilmu akan menghantarkan kita pada kesesatan.

Tapi bukan berarti orang yang bersyakhsiyah Islamiyah tidak akan pernah berbuat salah dan dosa. Manusia bukanlah malaikat. Manusia tempatnya salah dan lupa. Asal kemudian dia bertaubat dan memohon ampun pada Allah SWT. Rasullullah pernah bersabda" Setiap anak adam pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat (HR.At-tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas).

Jadi permasalahannya adalah bukan Arab atau non Arab, tapi seberapa jauh seseorang faham dan mengamalkan agamanya. Bersyaksiyah Islamiyah dan menjadikan Islam sebagai kaidah dan qiyadah dalam berfikir dan berbuat. Tidak masalah apakah ia orang arab atau bukan, di hadapan Allah semua sama. Terlebih Islam melarang kita untuk ashabiyah, dan berjuang untuk ashabiyah. Semua orang Islam adalah satu karena diikat oleh aqidah yang satu. Semua orang Islam bersaudara dan diikat dengan ikatan ukhuwah Islamiyah.

Pertanyaannya kemudian, kenapa sampai terjadi stereo negative dan gazwul fikri serta gazwuts Tsaqafi terhadap kaum muslimin?

Ini tidak lain karena 3 pilar pembentukan masyarakat yang Islami telah lemah. Ketakwaan Individunya lemah, kontrol dari masyarakatnya juga lemah. Terlebih tidak ada Negara yang benar-benar care terhadap kondisi kaum muslimin sekarang ini. Umat Islam lemah, tidak bersatu dan mudah untuk diadu domba. Masing-masing kelompok, curiga dengan kelompok lainnya. Masing-masing negara, curiga dengan negara lainnya. Padahal agama kita sama, panduan hidup kita sama Al Quran dan Al hadist. Terlebih kita menyembah kepada Dzat Yang Satu, Allah SWT. Seharusnya kita bisa bersatu.

Terakhir untuk semua, stop pendiskreditan terhadap umat Islam, jangan mengeneralisir hanya karena ada sebagian umat Islam yang sudah luntur keislamannya atau bahkan menyimpang dari ajaran Islam yang agung. Terapkan syariat Islam di seluruh bidang kehidupan, dan perkokoh ketiga pilar pembentukan masyarakat Islam, agar agar hidup kita berkah dalam ridhaNya. Dan secara individu, mari bentuk kepribadian kita menjadi kepribadian Islam yang tangguh dan berpengaruh. Tingkatkan aqliyah kita dengan tsaqafah-tsqafah Islam dan latih nafsiyah kita dengan lebih meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT. Insya Allah dengan begitu, Islam dan kaum muslimin akan kembali mulia, seperti sejatinya.

Allahu A’lam.

Sabtu, 27 Juni 2009

Hari kemarin itu...


Assalamu’alaikum teman-teman….saya ingin berbagi cerita.

Subhaanallah, kemarin hari yang sangat berarti bagi saya. Hari itu saya belajar tentang kuasa Allah dan hikmah kehidupan.

Sore kemarin saya ke Souq As Syria (orang kita biasa menyebutnya Sukasirih—entah kenapa, mungkin biar serasa Indonesianis he..he ) untuk membeli daging sapi. Souq Assyiria adalah kawasan pertokoan segala macam kebutuhan, tak heran hari libur begini kawasan tersebut macet dan susah mencari tempat parkir (harus cari parkir sendiri, gak ada tukang parkir seperti di Indo). Setelah mencari-cari parkiran hampir setengah jam lamanya, Alhamdulillah akhirnya dapat juga, disamping sebuah Rawnaq (toko buku), di depan Money Changer. Dan kami benar-benar merasa beruntung karena pas di depan money changer itu ada sebuah ATM. Sebelum belanja, kami bermaksud mengambil uang dulu. Kebetulan kartu ATM ada di dompet saya, maka sayalah yang maju. Dengan tanpa melihat dulu layar monitor (cuaca masih panas, agak silau), saya masukkan kartu. Tapi kemudian macet, monitor ternyata error dan kartu tertelan. Ya Ilahi…akhirnya suami menelepon costumer servis dan ternyata kartu yang tertelan baru bisa kembali setelah 7 hari. Innalillahi, mana di dompet kami hanya ada beberapa real saja. Tapi kemudian kami agak lega saat tau masih bisa mengambil uang dengan buku.

Berkali-kali saya minta maaf, suami saya hanya bilang “lain kali mesti lebih hati-hati lagi…diliat dulu yang benar…” (cool banget). Beberapa orang yang bermaksud ambil uang juga, datang menghampiri dan bertanya kenapa? Is it work? Dll. Di tengah kebingungan begitu ada seseorang (sepertinya Bangladesh atau India) yang memakai baju seragam (saya awalnya kurang memperhatikan seragamnya), dia menghampiri kami dan bertanya kenapa sambil mengecek monitor. “masih butuh waktu” katanya. “Cari ATM lain”, katanya lagi. “Tapi kartu saya tertelan” kata suami. “Oh, siapa namamu”, katanya sambil masuk ke dalam gedung money changer. Setelah di jawab, kamipun mengikutinya ke dalam. Ternyata dia adalah petugas servis ATM, dan kartu ATM yang tertelan bisa dengan mudah dia ambil. “still servis” katanya tersenyum. Sontak kamipun berterimakasih berkali-kali, yang dibalas dengan senyuman tulus. Subhaanallah…

Ditengah kecemasan dan perasaan bersalah yang menumpuk. Ditengah panasnya udara summer yang membuat tubuh cepat letih. Dan ditengah kebingungan mesti melakukan apa. Ditengah awan mendung dan kesuraman kami, Allah menolong kami dan membalikkan semua keadaan…Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah Allahu Akbar!
Ya Allah, betapa gagahnya Engkau… Kau ciptakan pelangi setelah hujan, hujan setelah kekeringan, hembusan angin ketika panas menyengat, malam dan siang, matahari serta bintang, dan semua yang membuat kami sadar akan keagunganMu.

Kau selalu memberikan perlindungan dalam ketakutan-ketakutan kami, jawaban dari kegelisahan-kegelisahan kami. Kau selalu mendengar pengaduan kami, keluh kesah kami, dan do’a-do’a kami.

Kau selalu mendengar, selalu menjawab, selalu melindungi, dan selalu mengabulkan segala permohonan, walaupun telah banyak maksiat yang kami lakukan. Walaupun banyak dosa yang belum kami Istigfarkan.” Ya Ilahi…ampuni kami…” dalam do’a dan keharuan, syukurku tak terhingga.

Petualangan dilanjutkan dengan mencari lagi mesin ATM. Ditengah udara sore saat summer begini, berjalan kaki seperti mandi sauna (bagus untuk saya he3) . Lumayan cukup lama kami berjalan (pipi faaza udah kemerahan), sebelum akhirnya menemukan mesin ATM dan membeli beberapa kilo daging. Alhamdulillah…

-----------
Malam selepas Isya kami bersilaturahmi ke rumah seorang teman yang baru datang dari Indo untuk mengisi liburan anak-anaknya. Sekalian ambil titipan teri medan dan baso super (jadi malu nih), juga berbagi siomay yang saya buat tadi siang. Saya datang bersama 2 keluarga lain. Ditengah asyiknya ngobrol ngalor ngidul, tiba-tiba bel pintu berbunyi dan satu keluarga dengan 2 anak laki-laki balita, datang berkunjung. Sang istri bergabung dengan kami para istri. “Siapa nih, belum kenal” bisik hati saya. “Dengan ibu siapa ini ya…baru ketemu” kata saya sambil salaman dan cipika cipiki. Belum terjawab pertanyaan, mata kami beradu pandang…Ya Ilahi…tubuh mungil, putih, dengan bentuk muka yang khas…tidak salah lagi, dia, pasti dia…

“Dyah…?” kata saya. Seperti saya, diapun terlihat kaget dan menyebutkan nama saya. Sekali lagi, kamipun berpelukan, kali ini lebih lama. Ternyata sahabat saya itu sudah hampir 2 tahun di sini, suaminya satu tempat kerja dengan abinya Faaza. Mereka bahkan sudah saling kenal, tanpa mengetahui istri-istri mereka adalah sahabat lama. Dyah udah punya 2 anak sekarang, usia 2 tahun dan hampir satu tahun. Sayapun mengenalkan anak semata wayang saya, Faaza yang sudah berusia 4 tahun dan sampai sekarang masih menunggu adik. :)

Malam itu, saya bertemu sahabat saya yang hampir 9 tahun tidak bertemu. Sahabat saat kuliah dulu, saat masih kurus dulu he3. Terbayang dulu saat kami berdua membagi-bagikan undangan pengajian ke komplek-komplek. Terbayang saat kami berdua berusaha mengantarkan surat izin tempat untuk sebuah acara. Terbayang saat kami ditolak oleh seorang bapak ketua DKM di sebuah perumahan elit karena disangka yang minta-minta sumbangan. “Maaf-maaf ya neng”, katanya sambil menepis-nepiskan tangan. Setelah dengan susah payah kami menerangkan maksud kedatangan kami, dan saya sodorkan kartu mahasiswa saya, si bapakpun mau menerima kami. Ah…

Ingat Dyah, ingat juga kelurganya yang baik. Ibu-bapaknya yang guru, kakak-kakanya yang shalihah dan adik bungsunya yang cantik. Sudah sering saya ke rumahnya dan mencicipi lezatnya masakan ibunya. Kulit tangkil dan tempe yang dimasak pedas manis…eumm.

Suatu kali, Dyah mengajak saya ke kebun kacang. “kita panen kacang yuk, mau gak?” katanya. Tentu saya iyakan, well…kacang rebus salah satu makanan paforit saya. Dengan sekali naik angkot, dan berjalan sebentar, kamipun sampai. Dan yang takkan terlupakan, kami 2 orang gadis kurus dengan jubah dan kerudung panjang, melepas kaos kaki dan langsung terjun ke medan pertempuran…eh, kebun kacang. Dengan semangat ’45 kami memanen kacang tanah dengan tangan kami sendiri, hanya berbekal pisau dapur. Tidak semua, hanya terkumpul sekita 5-6 kg saja, tenaga kami sudah terkuras. Dan hari itu, kami menikmati kacang rebus hasil panenan kami. Subhaanallah…

Hari kemarin, hari yang sangat berarti buat saya, hari saya benar-benar merasa Allah begitu dekat dengan saya. Allah selalu melindungi saya. Dan pertemuan saya dengan sahabat lama saya, lebih meyakinkan saya bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini jika kita beriman dan bertakwa…Amin. Jadi inget nasyidnya Raihan tentang Ash Habul Kahfi…”Laisa Filkauni muhallun ‘alaih, idza aamanna wattaqau…”

Al Wakrah, Qatar 26 Juni 2009

Kamis, 14 Mei 2009

Takut Kepada Allah



Definisi
Rasa takut merupakan manifestasi naluri mempertahankan diri (garizah baqa’) yang merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Dan sebagaimana naluri, rasa takut ini tidak akan muncul dengan sendirinya kecuali ada faktor yang membangkitnya, baik berupa fakta terindera ataupun pemikiran. Pada kondisi-kondisi tertentu rasa takut ini memang harus ada dan diadakan. Tapi dalam kondisi lain, rasa takut ini tidak boleh ada dan harus dihilangkan. Dengan pemahaman yang benar, kita akan mengetahui, mana yang harus diadakan dan mana yang harus dihilangkan. Rasa takut terhadap bahaya yang memang benar-benar menbahayakan adalah sesuatu yang bermanfaat dan harus ada. Rasa takut kepada Allah dan adzabNya adalah perkara yang bermanfaat dan harus ada, agar kita senantiasa melaksanakan perinta-perintahNya dan menjauhi larangan. Agar kita takut untuk berbuat dosa dan bermaksiat padaNya. Rasa takut seperti ini jika senantiasa ada pada jiwa manusia, akan membuat kita senantiasa berada dijalan lurus, terikat dengan syariatNya.

Takut kepada Allah merupakan kewajiban.
Dalilnya di dalam al-Quran dan as-Sunah sangat banyak, diantaranya:

1.“…janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu
benar-benar orang yang beriman”.
(TQS. Ali ‘Imrân [3]: 175)
2.Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi)
takutlahKepadaKu
. (TQS. al-Mâidah [5]: 44)
3.Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut
nama Allah gemetarlah hati mereka,
… (TQS. al-Anfâl [8]: 2)

4.Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu
adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika)
kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari
anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu
lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan
tetapi azab Allah itu sangat keras (TQS. al-Hajj [22]: 1-2)

5.Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri
dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang
cukup menyibukkannya. TQS. ‘Abasa [80]: 34-37)

6.Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir ra. ; aku mendengar Rasulullah saw.
bersabda: Sesungguhnya azab yang paling ringan dari penghuni neraka pada hari
kiamat ialah seorang yang diletakkan pada kedua telapak kakinya sepotong bara api
yang menyebabkan otaknya mendidih. (Mutafaq ‘alaih)

7.Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Kelak manusia akan
berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam, hingga salah seorang dari mereka tenggelam
dalam keringatnya sampai ke paras kedua telinganya. (Mutafaq ‘alaih)

8.Dari Anas ra., ia berkata; Rasulullah saw. pernah berkhutbah yang aku tidak pernah
mendengar khutbah seperti itu selamanya. Rasulullah saw. Bersabda: Jika kalian
mengetahui apa yang aku ketahui, maka niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak
menangis. Kemudian para sahabat Rasulullah saw. menutup wajah mereka dan mereka
menangis tersedu-sedu. (Mutafaq ‘alaih)
Balasan Bagi yang takut kepada Allah

• Dalam hadist qudsi Nabi saw. Bersabda: Allah SWT berfirman: Demi kemulian-Ku, Aku
tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba.
Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan bemberikannya rasa aman di hari
kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut
kepadanya di hari kiamat. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

• Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (TQS. ar-
Rahmân [55]: 46)


• Dari Abû Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Allah
berfirman, “Jika hamba-Ku bermaksud melaksanakan maksiat, maka janganlah ditulis
hingga ia melaksanakannya. Jika ia melakukannya, maka tulislah kesalahaan itu
dengan satu kesalahan. Jika ia meninggalkannya karena Aku, maka catatlah sebagai
sebuah kebaikan. Jika hamba-Ku bermaksud melaksanakan sebuah kebaikan tapi ia
belum sempat melaksanakannya, maka catatlah sebagai sebuah kebaikan. Jika ia
melakukannya, maka catatlah sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali
lipat. (Mutafaq ‘alaih)

• Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan- Nya, pada hari
yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu …(salahsatunya) Seorang lelaki
yang diajak seorang perempuan cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia
berkata, “Aku takut kepada Allah!”. (Mutafaq ‘alaih)

Bagaimana untuk memunculkan rasa takut kepada Allah ?

1.Refresh keimanan kita dengan selalu mentadaburi dan mentafakuri alam, mengkaji Al
Quran, dan bermuhasabah diri.
2.Pertebal keimanan kita kepada hari pembalasan.
3.Ihsan
4.Tingkatkan frekuensi ibadah


Khatimah

Rasa takut bisa menjadi hal yang berbahaya dan bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Agar manusia bisa menghindarkan diri dari bahaya rasa takut, dan agar bisa menikmati manfaatnya, ia wajib menyesuaikan rasa takutnya dengan pemahaman-pemahaman yang benar, yang tidak lain, pemahaman Islam.

Rabu, 13 Mei 2009

Agar Suami Makin Cinta


Adalah hal yang fitrah kalau seorang wanita ingin dikatakan cantik oleh pasangannya. Begitupun saya. Saat badan kian melar, terkadang rasa PD kepada suami berkurang. Saya pernah membicarakan ini dengan suami, dan jawabannya tidak membuat saya semangat untuk berdiet. “yang penting umi sehat, bagi abi gak masalah bla…bla…bla”.

Seorang sahabat menyarankan saya meminum green tea plus lemon untuk menurukan berat badan. Di hari ketiga, suatu malam sesaat setelah saya minum lemon tea, tiba-tiba saya pusing dan lemas banget…rupanya maag saya kambuh, saya lupa tidak makan sore, dan asemnya lemon membuat lambung saya gak kuat. Walhasil sejak saat itu suami melarang saya untuk diet-dietan. “Kalau umi pengen diet, banyak-banyak aja puasa, yang rajin puasa senin kamisnya” katanya. Ah, suamiku...

Saat ibu-ibu ramai membicarakan kosmetik dengan beragam merk dan berbagai khasiatnya, saya hanya bisa tersenyum. Dari dulu, sejak kami menikah, suami kurang suka kalau saya memakai lipstik atau memakai bedak berlebih (menurut beliau). Pernah suatu kali, di rumah ketika menunggu suami pulang, saya berdandan dan memakai lipstiki. Bukannya senang, beliau malah tersenyum aneh dan membuat saya benar-benar malu. “Umi pakai lipstik ya…”katanya geli.

Sebenarnya saya sendiripun termasuk orang yang malas berdandan. Dulu…hanya saya di keluarga yang selalu sering lupa memakai bedak. Hand&body lotion saya bisa awet sampai setahun karena jarang dipakai. Begitupun dengan bedak dan pelembap. Untuk kosmetik, apa yang direkomendasikan mamah saya, itulah yang saya pakai. Ketika mamah saya memakai merk A, saya ikut memakai merk A. Ketika mamah berganti ke merk lain, sayapun berganti. He…he.

Seingat saya, saya belum pernah membeli lipstik. Hanya pemberian bibi, kakak ipar dan terakhir mamah saya. Itupun tidak baru. Dan seingat saya hanya beberapa kali saja saya memakainya. Terakhir, ketika suatu kali mamah berkunjung ke rumah, sehabis saya operasi, lipstik beliau ketinggalan di rumah, sayapun memintanya karena tertarik warnanya yang natural. RedA 610, sampai sekarang menemani saya di Qatar.
----

Masih seputar kecantikan. Suatu kali saya menanyakan pendapat suami kalau saya memakai kawat gigi seperti ibu-ibu yang lain. Terjadilah dialog seperti ini:
“Bi, boleh gak umi pake kawat gigi, biar lebih rata dan tambah cantik…” kata saya kepada suami.
“emang umi pengen dibilangin cantik sama siapa? ”
“Ya sama abi dong”.
“Bagi abi, umi udah cantik kok”.
“tapi kan biar giginya jadi rata, bagus”.
“Kalau menurut abi sekarang udah bagus kok”.

Sayapun terdiam.
-----

Suatu kali saat kami dikendaraan, saya iseng-iseng bertanya:
“Abi emang tetep cinta sama umi padahal umi udah ndut begini?”
“Iya…”
“tapi masa sih sebagai laki-laki gak suka sama yang cantik-cantik…yang langsing-langsing”
“Dari dulu abi mah gak mempermasalahkan itu sih mi. Buat abi, fisik itu gak terlalu penting, yang penting bisa membawa Abi untuk jadi lebih baik lagi”


Saya terharu mendengarnya, tapi kemudian saya menyahut:

“ah abi mah, umi kan jadi tenang denger begitu…tapi nanti semakin lama-semakin lama, umi tambah ndut…udah gak menarik lagi, abi nikah lagi he…he…he…” (kami berdua meyakini bahwa poligami adalah salah satu hukum Allah, dan saya bukan yang “anti” poligami)
“Rasa cinta, rasa suka dan masalah pernikahan itukan bukan kita yang ngatur, Allah yang ngatur, makanya umi harus banyak-banyak berdo’a biar abinya gak…” katanya tanpa menyelesaikan kalimatnya. Saya langsung memotong:
“Iya ya bi ya, subhanallah…hebat abi mah. Tapi kalo umi laki-laki pun sepertinya umi juga akan mempunyai pendapat seperti abi”.

Pembicaraanpun selesai.
----

Ibu yang shalihah dan teman-teman yang saya cintai karena Allah…
Saya mempunyai seorang sahabat yang sekarang ini, di musim panas ini sedang semangat-semangatnya berpuasa. Katanya untuk mengqadha puasa yang dulu ketika hamil dan menyusui kedua anaknya, dia tinggalkan. Bulan Ramadhan nanti rencananya sahabat saya ini akan pergi umroh dan sebelum itu dia bertekad untuk melunasi hutang puasanya. “Masa hutang sama manusia saja harus dibayar, hutang sama Allah gak” ujarnya. Mendengar itu, subhaanallah…saya sungguh terharu.

Saya instrospeksi diri. Setelah saya gendut, saya agak berat untuk berpuasa sunah. Sudah semakin jarang puasa senin kamis saya amalkan. Pernah suatu ketika saat saya berpuasa, di sore hari hanya bisa baringan saja, untuk berbicarapun lemah, seperti orang sakit. He..he. Melihat itu, suami saya tertawa-tawa dan meledek “Liat Faaza, kasian uminya lemes! udah…umi buka aja…buka aja sana…ha..ha…ha”. Saya hanya bisa tersenyum, terlalu lemah untuk menjawab, hanya dalam hati bilang “sayang dong Bi…kan sebentar lagi magrib”. He..he.. Seperti anak kecil, sering puasa sunah saya hanya bertahan sampai dhuhur……memalukan memang. Ah, Ya Rabb…ampuni hamba ya Rabb…

Setelah mendengar cerita sahabat saya, suami menyemangati saya untuk mulai berpuasa lagi. Dan Alhamdulillah…senin kemarin dengan tekad kuat saya berpuasa, tidak seberat yang saya bayangkan, tidak seberat seperti sebelum-sebelumnya. Sore hari, sekitar jam setengah 6, saya sms suami yang masih ada di tempat kerja, baru jam 7 malam nanti beliau pulang.
“Assalamu’alaikum…Bi, umi masih puasa lho…ternyata umi bisa kuat juga ya bi…Alhamdulillah.”

Beberapa saat kemudian HP saya bunyi. Sms dari suami.

“Wassalamu’alaikum…wah, hebat euy…abi aja gak kuat..subhanallah..jadi makin cinta”.

Ah Saya bahagia, benar-benar bahagia. Subhanallah…saya genggam HP saya erat-erat. Sekarang dengan keyakinan pasti, saya telah menemukan cara, bagaimana agar suami makin cinta.

Uhibbuka Fillah Abi…

Catatan:
Abi dalam bahasa Arab berarti Bapakku. Sebenarnya diperuntukkan sebagai panggilan anak kepada Ayahnya. Tapi kebiasaan di Indonesia, istri pun memanggil suami dengan sebutan Abi, maksud sebenarnya untuk membahasakan anak agar terbiasa memanggil Abi. Begitu pula dengan panggilan Umi kepada Ibu.

Selasa, 05 Mei 2009

Memelihara dan Mengamalkan Al Quran (1)



Al-Quran yang mulia adalah firman Allah Swt. Al-Quran
diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw., melalui wahyu
yang dibawa oleh Jibril, baik lafazh maupun maknanya;
membacanya merupakan ibadah, sekaligus merupakan mukjizat
yang sampai kepada kita secara mutawatir. Allah Swt. berfirman:
"Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya,
diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji.."(TQS. FushShilat [41]: 42)


Al-Quran adalah kitab yang dijaga dengan penjagaan Allah sendiri. Allah berfirman:Sesunguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan Kami pasti
akan menjaganya. (TQS. al-Hijr [15]: 9)


Al-Quran adalah kitab yang mampu menghidupkan jiwa dan menentramkan hati. Dengan izin Tuhan mereka, al-Quran bisa mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya; yaitu jalan Dzat yang Maha Perkasa lagi Terpuji. Siapa saja yang berkata dengan menggunakan al-Quran, pasti akan terpercaya. Siapa saja yang mengamalkannya, pasti akan beruntung. Siapa saja yang memutuskan hukum dengannya, pasti akan adil. Dan siapa saja yang mendakwahkannya, pasti akan mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus.

Al-Quran adalah sebaik-baik bekal bagi setiap muslim. Lebih-lebih bagi para pengemban dakwah. Dengan al-Quran hati akan menjadi hidup. Dengannya, semua sandaran akan semakin kokoh. Para pengembannya akan menjadi seperti gunung yang berdiri kokoh, sehingga dunia pun menjadi kecil baginya ketika berada di jalan Allah. Dia akan senantiasa mengatakan yang hak, dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela, sematamata karena Allah. Dengan al-Quran, sesuatu yang mudah diombang-ambing oleh angin lantaran bobotnya ringan, menjadi lebih berat bobotnya di sisi Allah, ketimbang gunung Uhud, karena dia senantiasa membaca al-Quran; dia membasahi lisannya dengan al-Quran, dan jari-jemarinya pun menjadi saksi.

Seperti itulah para
sahabat Rasulullah saw. mengarungi kehidupan dunia ini, seolaholah
mereka seperti al-Quran yang berjalan. Mereka senantiasa menelaah ayat-ayatnya, membacanya dengan sungguh-sungguh, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya. Jiwa mereka pun tergetar oleh ayat-ayat adzab, dan hati mereka pun menjadi senang
karena ayat-ayat rahmat. Air mata mereka bercucuran karena tunduk terhadap kemukjizatan dan keagungannya, serta patuh terhadap hukum-hukum dan hikmahnya.

Mereka menerima al Quran langsung dari Rasulullah saw. sehingga ayat-ayatnya pun menghujam dalam lubuk hati mereka yang paling dalam. Karena itu, mereka menjadi manusia-manusia mulia dan menjadi para pemimpin; orang-orang yang berbahagia dan beruntung. Ketika mereka ditinggal oleh Rasulullah saw. menuju tempat yang paling
tinggi di surga ‘illiyyin, mereka tetap konsisten memelihara al-Quran, sebagaimana wasiat Rasulullah saw. Maka para penghafal (pemelihara) al-Quran tadi senantiasa berada di barisan terdepan ketika melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Para
pengemban al-Quran itu juga senantisa menjadi terdepan dalam segala kebaikan dan terdepan dalam menghadapi segala rintangan di jalan Allah Swt.

Sesuatu yang paling berharga bagi kaum Muslim umumnya,dan para pengemban dakwah khususnya, adalah bahwa hendaknya al-Quran senantiasa menjadi penyiram hati mereka, dan teman setia yang mengiringi setiap langkah mereka. Karena al-Quran akan
membimbing mereka untuk meraih semua kebaikan, dan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memeliharanya di tengah malam dan di penghujung siang,dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya, sehingga
mereka akan menjadi sebaik-baik generasi khalaf, mewarisi generasi
salaf yang terbaik.

Berikut ini adalah ayat-ayat al-Quran beserta hadits Nabi yang menceritakan tentang turunnya al-Quran, jaminan terpeliharanya, tentang petunjuknya, keutamaan membacanya,
dan segala kebaikan yang sangat banyak di dalamnya, dari dan disekitarnya:

"Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu
(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan". (TQS. asy-Syu’arâ [26] : 193-194)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan Kami pasti
akan menjaganya". (TQS. al-Hijr [15]: 9)

"Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya,
diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji.. "(TQS. Fush
Shilat [41]: 42)

"Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan
yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang
mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada
pahala yang besar". (TQS. al-Isra [17]: 9)


"Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami,
menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu
sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya.
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab
yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orangorang
yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan
(dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya
dan menjuluki mereka ke jalan yang lurus". (TQS. al-Mâidah [5]:15-16)

"(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang
benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan
Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (TQS. Ibrahim [14]: 1)

"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram".
(TQS. ar-Ra’d [13]: 28)

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau
kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya". (TQS. an-Nisa
[4]: 82)



__________
sumber kitab Minmuqawwimat An-Nafsiyah Al Islamiyah