Jumat, 20 November 2009

Cerita Sahabat (1)


Prolog
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…Teman-teman dan sahabat yang di raahmati Allah, catatan kali ini saya tulis dari kisah nyata seorang sahabat, yang meminta kisahnya di muat. Sebenarnya berat, karena tentu akan membangkitkan memori lama. Tapi sms beliau, membuat saya tidak bisa menolak. Berikut saya kutipkan sms nya:

“…Btw, N boleh minta sesuatu gak? Teh bikin tulisan tentang kematian dong, cerita abahnya F juga boleh diangkat. N senang baca tlsn2 te2h, ada sesuatu yang lain. Spt mangga muda, jd crt yg enak bgt. Pdhal dr dl jg kita tau te2h suka it tp ktk it dtls jd bkesan…”

Untuk nama, saya tuliskan inisialnya aja ya…Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran darinya.

Arti Kehilangan
“Saat kau kehilangan orang yang begitu berarti bagimu
Orang yang kau puja, kau andalkan
Dan selalu kau tunggu kedatangannya—
Dengan penuh do’a dan cinta,

Perlahan-lahan kau akan dapati
Keceriaanmu memudar
Senyummu kian hilang
Canda usilmu lenyap
Semangatmu pun menguap

Kau akan merasa
Beban berton-ton dipundakmu
di kepala dan di dalam hatimu

Melahirkan luka, sedih dan perih
di ulu hati
Menyayat setiap syaraf
Melemaskan seluruh otot tubuhmu
Membuatmu tak lagi menunggu mentari
dengan penuh rindu

Dan kau pun…
akan merasa kesepian
lebih dari kehilangan itu”.



Malam itu, --tepatnya tanggal dan tahunnya kurang tau, tapi sepertinya tahun 2007—tidur lelap kami terganggu oleh alunan “titanic” dari HP jadulku. Suami yang kebetulan tidur paling pinggir dengan terkantuk-kantuk memberikankan HP itu padaku. “assalamu’alaikum…” gumam saya dengan mata yang masih terpejam. Terdengar sayup-sayup suara di seberang sana yang begitu memelas:

“alaikumsalam….teteh…teteh…ini N teh…”
Masih dengan mata terpejam saya menyahut “Iya N…ada apa?”
Dalam Fikiran saya ketika itu paling-paling lagi sedih, mau curhat, karena memang ada beberapa teman yang biasa curhat ke saya.

“Teteh…teteh…si abah meninggal teh…kecelakaan…”
“oh iya…iya…” sesaat itu yang keluar dari mulut saya, sebelum akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi, dan percaya bahwa ini tidak mungkin main-main. Mendadak kantuk saya hilang, dan sayapun segera bertanya, ingin kepastian.

“Eh…eh, N…ini N? Tadi kenapa N?”

“Iya teteh…si abah meninggak kecelakaan…” (nada suaranya sungguh memilukan)

“Ya Allah Innalillahi…N…, N, sekarang N di mana”?

Di sela-sela isakan, sahabat saya menjawab: “Di rumah sakit teh…di DKT, sebentar lagi mau di bawa ke bumi agung ke tempat Om…”

“Oh ya udah, teteh ke rumah sakit sekarang…N tunggu teteh ya…teteh ke sana sekarang!”

Kepada suami belum kembali tidur, saya jelaskan singkat, dan dengan gamang dan panik kami bersiap-siap berangkat. Suami menyiapkan motor, sedang saya mempersiapkan Faaza yang masih tertidur pulas. Saat itu baru 2 tahun usianya. Saya kasih Diapers, memakaikan kaos kaki dan jaket, kemudian saya gendong ia. Sebelum pergi, saya lirik jam, setengah 12 malam.

Sepanjang perjalanan, untuk meredam perasaan yang campur baur, setengah percaya dan tidak, dan air mata yang keluar tiba-tiba, saya berdzikir…berdzikir…ingatan saya terbang kemana-mana…pada sahabat saya yang pasti sedang limbung, pada anaknya yang baru bisa berjalan…pada yang baru meninggalkan…Ya Allah, perjalanan ke rumah sakit terasa lama sekali saat suasana hati sedang begini…

Jalanan lengang, hanya satu-dua kendaraan saja yang melintas. Di sepanjang jalan itu juga saya berfikir, apa yang akan saya lakukan nanti di hadapan sahabat saya…kalau saya menangis…tentu dia akan semakin sedih, kalau saya menguatkannya dan menahan diri untuk tidak menangis…apakah saya sanggup? Apakah saya sanggup untuk tidak menangis di hadapan sahabat saya yang pasti sedang runtuh dunianya…patah sayapnya dan hancur mimpi-mimpinya? Ya Allah…

Kami sampai di rumah sakit, dan langsung ke gawat darurat dan bertanya pada petugasnya. Setelah di tunjukkan, kami ke dalam…

Terlihat seorang akhwat, dengan jubah dan jilbab coklat di samping tempat tidur, seketika saya memburunya. “N…Ya Allah…N…” Saya peluk dia, dan kamipun bertangisan.

“Ya Allah N…yang sabar ya…” sela saya dalam isak.

Dengan menahan tangis dan mata berkaca-kaca, sahabat saya menjawab “InsyaAllah teh, N ikhlas… Allah pasti mempunyai rencana yang indah untuk N”. Katanya dengan mantap.

Sungguh, pada detik itu saya merasa, saya lebih rapuh dari dia…saya yang seharusnya menghibur dan menguatkannya malah tidak bisa berkata-kata. Subhanallah…saya kagum padanya. Karena saya sangat tau bahwa untuk bisa bersikap seperti itu tidaklah mudah. Semoga Allah selalu menyayangi dan melindungimu sahabatku, karena keikhlasan dan ketegaranmu…

Setelah urusan selesai, kami ke rumah duka bersama Om, tetangga dan rekan al marhum. Suami naik motor sedangkan saya dan Faaza ikut bersama Nana dan de Faqih (anaknya). Mobil kami di belakang ambulance yang dengan sirene khas nya melengking-lengking, menyayat hati kami. N berkata lirih pada anaknya yang terbangun di pangkuannya…”abah mana de…abah di mobil depan” katanya sambil terisak. Mata saya kembali berair…saya genggam tangannya, ingin menguatkan, saya tidak bisa berkata-kata.

Sesampai di rumah, sekitar setengah 2 pagi, saya coba kembali mengontak beberapa teman dan Alhamdulillah tersambung. Tak lama berselang, beberapa teman langsung berdatangan. Kami yang akhwat duduk di kamar yang pintunya menghadap ruang tengah dimana almarhum di letakkan. Bergantian kami peluk sahabat kami sambil bertausiah untuk saling menguatkan.

Selepas subuh, yang melayat semakin banyak. Saya yang duduk dipojokan kamar, memandang sahabat saya, yang tengah bercerita. “Biasanya jam segini kami baru beres mencuci baju dan menjemurnya bareng…”katanya sambil terisak. Beberapa teman langsung memegang tangan dan mengelus punggungnya. Pandangan saya beralih ke almarhum yang terbaring di ruang tengah. Dalam hati saya menggumam “Ya Allah…padahal jarak dia dan suaminya paling Cuma 2-3 meter, suami yang paling dekat dengannya, suami tempat dia berkeluh kesah dan berbagi cerita jaraknya Cuma 2-3 meter…tapi dia hanya bisa bercerita ke kami, sahabat2nya…karena, jarak yang 2-3 meter itu jadi sangat jauh…sangat jauh, dan tak bisa digapai oleh apapun”. Meskipun masih ada di depan mata, sang suami sudah tidak bisa lagi mendengar atau bercakap-cakap. Ah, menurut saya tidak ada lagi yang lebih menyakitkan daripada itu. Lebih sakit daripada “jauh di mata dekat di hati”, karena bagi sahabat saya keadaannya dekat di mata dan dekat di hati namun tak bisa tergapai lagi, tak kan pernah bisa…

Ya Allah, itulah maut…datangnya tidak disangka-sangka, bukan hanya oleh kita, tapi oleh yang meninggal itu sendiri. Ingatan saya kembali melayang ke kejadian 2 hari yang lalu sebelum peristiwa itu terjadi. Sore itu almarhum menjemput N dan anaknya yang baru selesai mengkaji sebuah kitab di teras rumah saya. “De, tuh abah” katanya. “Babah…babah…” kata anak yang baru bisa berjalan itu antusias. Almarhum sempat menyapa Faaza yang saya gendong sehabis main becek-becekan di depan rumah. “Faaza…Faaza” katanya, dengan suara seraknya yang khas.

Setelah berpamitan, dengan berboncengan motor, diikuti tatapan saya, merekapun pulang. Dan Ya Allah, setelah kejadian itu, suara khasnya ketika menyapa Faaza, selalu terngiang sampai sekarang.


To be continued….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar