Sabtu, 14 Februari 2009

Astagfirullah...


“Astaga! Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun telah menjadi ayah. Pacar anak tersebut baru saja melahirkan seorang bayi buah hubungan mereka.
Alfie Patten, anak asal Inggris itu merasa senang memiliki bayi. "Saya pikir akan menyenangkan memiliki bayi," kata Alfie yang wajahnya tampak jauh lebih muda dari usianya, seperti dilansir tabloid Inggris, The Sun, Jumat (13/2/2009).
Kekasih Alfie, Chantelle Steadman (15) melahirkan seorang bayi perempuan di Rumah Sakit Eastbourne, Sussex Timur, Inggris. Bayi tersebut diberi nama Maisie Roxanne.
Alfie berumur 12 tahun saat Chantelle mengandung bayi mereka. Keduanya memutuskan untuk tidak melakukan aborsi. Mereka terus merahasiakan kehamilan tersebut hingga saat usia kehamilan Chantelle 18 minggu, ibunya mencurigai tubuh putrinya yang semakin gemuk.
"Kami ingin memiliki bayi itu namun kami khawatir bagaimana orang akan bereaksi," tutur Alfie yang tinggal bersama ibunya. Ayah Alfie, Dennis telah berpisah dari ibunya.
Senada dengan Alfie, Chantelle pun yakin akan menjadi orangtua yang baik bagi anak mereka. "Saya akan menjadi ibu yang hebat dan Alfie akan menjadi ayah yang hebat," tutur Chantelle.
Meski usianya baru 13 tahun namun Alfie bukan ayah termuda di Inggris. Ayah termuda di Inggris adalah Sean Stewart. Dia menjadi ayah pada umur 12 tahun ketika kekasihnya yang juga tetangga sebelah rumahnya, Emma Webster (15), melahirkan anak mereka pada tahun 1998. Namun keduanya berpisah enam bulan kemudian.” (http://id.yahoo.com/ )





Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh…ibu yang shalihah, bagaimana perasaan ibu setelah membaca berita itu? Terkejut? Miris? Di Indonesia saja, hasil searching di internet, ada survey yang menyebutkan hampir 56% remajanya melakukan hubungan seks sebelum menikah! Astagfirullah…

Itulah produk dari freesex, produk dari budaya yang mencampakkan agama di tong sampah. Buah dari sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan liberalisme (kebebasan).

Terkadang kita underestimate pada anak seusia mereka. Banyak perintah agama yang masih kita tolerir karena merasa mereka masih kecil. Seperti mengharuskan mereka berpuasa, membiasakan mereka untuk disiplin shalat, dan memukulnya jika usia 10 tahun tapi susah disuruh shalat. Memisahkan tempat tidur anak-anak, memilihkan teman dan lingkungan anak, dll. Terkadang juga kita teledor dengan lagu-lagu yang biasa kita putar atau tayangan-tayangan yang biasa kita tonton yang berimbas pada pertumbuhan naluri anak. Kita terkadang lupa, bahwa seiring usia, bukan hanya fisik anak yang tumbuh dan berkembang, tapi juga gharizah atau naluri si anak.

Ibu mungkin bisa berujar “ah, itu kan di Inggris, budayanya memang udah rusak, beda dengan di negara kita, lagian di rumah anak saya dididik dengan baik”. Tapi ibu yang shalihah…berapa jam dalam sehari semalam kita bisa mengawasi anak-anak kita yang sudah mulai masuk usia ABG itu? Apa yang dia selalu dengar, apa yang selalu ditonton, dengan siapa dia bermain, kemana ia bermain, dll. Sudah banyak kasus dimana anak terlihat baik di rumah tapi kacau di luar rumah.

Dengan alasan usia, kita ulur waktu untuk mereka belajar memahami bagaimana Islam mengatur hubungan dengan lawan jenis. Dengan alasan usia juga kita menolerir anak-anak perempuan kita untuk membiasakan diri sedari kecil, menutup aurat dengan busana muslim. Dengan alasan usia juga kita menolerir lingkungan yang bercampur baur (ikhtilat) antar anak yang berlainan jenis. “Ah, masih anak-anak”, begitu kata kita. Tapi bu, dengan kepolosannya, mereka menangkap, mengindera dan merekam apa yang selau mereka dengar, apa yang senantiasa mereka lihat dan rasakan.
Dari lagu-lagu cinta yang biasa kita dendangkan, kita perdengarkan di rumah, atau dikendaraan, sering kita dapati anak-anak yang hafal di luar kepala syair cintanya Peterpan, radja, ungu dll, yang mungkin artinya tidak mereka pahami semua. Dengan tidak sadar kita mengkarbit mereka untuk dewasa sebelum waktunya. Tapi anehnya, ada juga ibu-ibu yang dengan bangganya memamerkan anaknya yang sudah fasih menyanyikan lagu goyang dombret plus dengan jogetannya, astagfirullah… Kita terkadang hanya ingin mendengarkan lagu-lagu yang kita mau tanpa mempertimbangkan imbas pada perkembangan naluri anak.

Begitu juga, apa yang kita tonton. Kalau ibunya senang melihat sinetron, jangan aneh jika anaknya pun ikut-ikutan senang. Padahal kita sudah sama-sama tau, tema sinetron di Indonesia tidak jauh-jauh dari urusan cinta, pamer aurat, dan kampanye hidup bebas. Tidak semua sih, tapi umumnya memang seperti itu.

Belum lagi warnet yang semakin menjamur. Dengan hanya 2000-3000 rupiah per satu jam, anak-anak ABG kita bisa bebas leluasa mengakses apapun di balik bilik-bilik warnet itu. Alih-alih mencari sesuatu yang bermanfaat, mereka malah asyik bermain game, download lagu, chating sampai akses situs-situs porno. Didikan ayah dan ibunya di rumah seringkali jebol oleh pengaruh lingkungan ini. Rangsangan yang terus menerus pada hasrat seksual, sementara kematangan berfikir tertunda,mengakibatkan di saat usia remaja, penuh dengan ketidaksiapan dalam membendung gairah pubertas. Syahwat telah menjadi “tuhan”, ditaati dan dipatuhi. Kissing, Necking, petting, bahkan intercause (KNPI), yang mestinya hanya untuk suami istri, dilakukan demi kepuasan. Wajarlah jika prestasi belajar kebanyakan anak muda, tak seindah harapan. Pikiran yang mestinya berpotensi untuk menyumbangkan penyelesaian bagi persoalan bangsa telah terpenuhi oleh racun seksualitas.

Ghazwul fikri (perang pemikiran), itulah dia. Budaya buruk yang datang dari luar Islam sudah masuk bahkan sampai ke rumah-rumah kita, ke kamar anak-anak kita, lewat bacaan, lagu-lagu atau tontonan.

Bagi kita khususnya di Qatar ini. Pengaruh teman bermain mungkin bisa diminimalisir. Selain di sekolah, praktis anak-anak di rumah saja, kalaupun bermain, pasti dengan anak dari keluarga teman dan pada acara-acara yang juga kita hadiri. Tapi bu, bukan berarti anak kita terbebas dari pengaruh budaya luar yang buruk. Di sekolah, kebanyakan anak-anak kita bersekolah di Internasional school atau di Indian school, ada pelajaran-pelajaran yang harus kita waspadai, misalnya kelas Dancing, dansa-dansi ala barat atau joget-joget ala india. Begitupun dari etika dan tatakrama, bagaimana berdo’a untuk memulai pelajaran dan sebagainya yang sesungguhnya tidak bebas nilai. Internet on line 24 jam . Tv kabel yang dengan leluasanya bisa melihat film apapun, bisa menjadi jerat –jerat yang memupus impian kita untuk mempunyai anak yang shalih. Untuk itu bu, pendidikan agama sungguh penting. Semua harus kita imbangi dengan gemblengan akidah, memupuk akhlak dan suasana Islami. Itulah tugas utama kita. Karna kita adalah benteng pertahanan terakhir generasi Islam. Allah SWT berfirman: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu…” (At Tahrim:6).

Kembali ke kasus di atas, dalam Islam, ketertarikan pada lawan jenis (garizah an Nau’) adalah fitrah. Ada bersama penciptaan manusia, sebagai salah satu potensi yang harus dipenuhi sesuai dengan aturan Allah. Pemenuhan naluri ini harus tetap sesuai dengan misi hidup kita, yakni beribadah kepada Allah SWT (Addzariyat: 56). Pemenuhan yang terlepas dari misi hidup hakiki, hanya akan menyengsarakan. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga masyarakat secara keseluruhan.

Menstruasi pertama bagi seorang anak puteri adalah saat mulai bertanggung jawab atas amalnya. Bukan saat pembebasan menikmati gairah pubertas. Juga bukan saatnya serba boleh, memilih dan bergaul bebas dengan lawan jenis. Juga bukan saat pertama ‘mulai’ mencari jati diri. Sesungguhnya jati dirinya mesti telah dikenalkan dan ditemukan sejak ia tamyiz (bisa membedakan benar dan salah, bahaya dan tidak). Ibu menyiapkan masa taklif (pembebanan) jauh sebelum masa ini tiba. Tidak boleh terlambat.

Islam sangat menjaga kesucian diri baik laki-laki maupun perempuan. Islam sebagai pandangan hidup yang paripurna dan lengkap, telah memunyai aturan hingga hal terkecil sekalipun. Islam mempunyai langkah-langkah yang bukan hanya curative (penyembuh) tapi juga preventif (pencegah). Maksudnya, sebelum terjadi kerusakan masyarakat karena seks bebas dan hilangnya virgintas pada remaja, ada langkah-langkah pencegahan yang harus ditempuh.

Pertama, ada aturan yang lengkap dan detil tentang gaya berpakaian baik laki-laki maupun perempuan. Bagi perempuan ada kerudung dan jilbab yang harus dikenakan bila keluar rumah. Untuk laki-laki, di atas lutut dan di bawah pusar. Ada juga perintah menundukkan pandangan (Ghadul bashar) bagi laki-laki dan perempuan (an Nur:30-31).

Kedua, aturan pergaulan laki-laki dan perempuan yang sempurna. Larangan berduaan (khalwat) bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Rasulullah saw. Bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR Ahmad)

Ketiga, peran serta masyarakat harus ada. Menegur, menasehati, dan peduli harus ditingkatkan ketika terjadi gejala perilaku seseorang menuju ke arah gaul bebas. Yang namanya tetangga apalagi pak RT dan pak RW harus tegas memberi teguran, peringatan hingga sanksi untuk perilaku yang kebablasan.

Keempat, peran negara sangat vital dalam hal ini. Selain sebagai pihak yang mengeluarkan aturan berkekuatan hukum, negaralah yang berhak memberi sanksi secara hukum pula bila ada pelanggaran. Negara harus mensosialisaskan aturan-aturan ini agar diketahui dan dipahami masyarakat. Bila sudah begini, orang-orang akan berpikir ribuan kali untuk melakukan tindakan amoral bila saja sanksinya tegas. Cambuk 100 kali bagi yang pezina yang belum pernah menikah dan rajam bagi pezina yang sudah menikah. Bukan gertak sambal, tapi harus serius dilaksanakan. Bisa dijamin, angka gaul bebas yang notabene mengarah ke seks bebas langsung turun drastis. Sesuai dengan firman Allah swt “Pezina laki-laki dan pezina perempuan jilidlah masing-masing keduanya dengan seratus kali jilid” (QS an-Nûr [24]: 2) Untuk hukuman rajam berdasarkan riwayat dari ‘Abdullâh bin Buraidah dari bapaknya berkata, “Telah datang kepada Rasulullah saw., al-Ghamidiyyah dan ia berkata, “Ya Rasulullah saw., aku telah berzina, sucikanlah aku!” Beliau saw. menolaknya. Besoknya ia berkata, “Wahai Rasulullah jangan engkau menolak aku, semoga engkau merehabilitasi aku sebagaimana engkau merehabilitasi al-Mâ’iz. Demi Allah saya telah hamil. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan, pulanglah sampai engkau melahirkan.” Ketika ia telah melahirkan ia mendatangi Rasulullah saw. dengan anaknya yang ada di gendongan, dan ia berkata, “Ini adalah anakku.” Rasulullah saw bersabda,“Pergi, dan susuilah sampai engkau menyapihnya!” Ketika ia telah menyapihnya ia mendatangi Rasulullah saw. dengan anaknya yang membawa sepotong roti. “Ya Nabiyullah, saya telah menyapihnya, dan ia sudah bisa memakan makanan. Lalu, anak itu diberikan kepada salah seorang laki-laki dari kaum Muslim. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan menanam wanita itu hingga dadanya, kemudian memerintahkan manusia untuk merajamnya.” Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa wanita hamil ditunggu sampai ia melahirkan, dan wanita yang menyusui ditunggu hingga ia menyapih anaknya.

Untuk para remaja

Virginitas bukan hanya pada utuh tidaknya selaput dara yang menunjukkan kegadisan seorang perempuan (ada beberapa kasus selaput dara robek bukan karena aktivitas seksual). Tapi virginitas adalah kondisi mental dan akhlak seseorang dalam perilaku seksualnya. Jadi pihak laki-laki pun juga bisa dikatakan nggak virgin kalau ia sudah mulai berani melakukan seks bebas sebelum nikah.

Hati-hati dalam bergaul, jangan coba-coba free sex. Karena mirip dengan narkoba, awalnya coba-coba selanjutnya bisa kecanduan. Bagi remaja puteri, kehilangan virginitas sangat kuat dugaan menjadi pintu awal untuk terjerumus ke arah jalan nggak benar. Bagi remaja putera juga tidak jauh berbeda. Awalnya hanya berniat coba-coba, menjadi ketagihan dan tidak lagi takut dosa. Bahkan tak jarang yang akhirnya memilih jadi gigolo demi uang dan kenikmatan sesaat. Naudzubillah

Penting diketahui, sebagaimana naluri-naluri yang lain, gharizah nau (naluri untuk melestarikan keturunan), hanya akan muncul jika ada stimulus dari luar, baik berupa penglihatan atau pemikiran. Oleh karena itu, buang jauh-jauh majalah porno, hindari tontonan yang memancing syahwat, tolak pacaran yang jelas-jelas langkah awal setan untuk menjerumuskan pada perzinaan dan jangan berikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) kecuali dalam tiga hal; pendidikan, kesehatan, dan perdagangan.
Lakukan aktivitas positif yang bisa meraup pahala, gabung dengan kelompok ilmiah remaja, berolahraga yang tidak bertentangan dengan syariat, aktif di kegiatan rohis (kerohanian Islam), dan berkumpul dengan teman-teman yang sholih bagi cowok dan sholihah bagi cewek. Pertebal keimananmu dengan selalu taat ajaran Islam, dan yakini bahwa Allah Maha Melihat di mana pun kita berada.

Hati-hati dengan musuh-musuh Islam yang selalu mencari celah dan berupaya untuk menjerumuskan remaja dan pemuda-pemudi muslim agar berlumur dosa. Celah ini adalah siasat untuk merusak Islam secara keseluruhan sebagai tujuan akhir. Generasi muda adalah lahan empuk yang digunakan sebagai sasarannya. Karena di usia ini, perkembangan hormon seksual mulai berkembang dan daya ingin tahu pun mulai meledak-ledak. Kalo tidak dibentengi dengan iman yang kuat, pastilah korban dari generasi muda akan berjatuhan.

Jangan tinggal diam, remaja muslim harus diselamatkan dari gaul bebas. Ini berat dilakukan selama paham kebebasan berperilaku (free behaviour) yang menjadi salah satu sendi demokrasi terus dipertahankan. Bagi mereka yang pikirannya dijejali ide kapitalisme, tidak masalah remaja rusak yang penting uang bisa dihasilkan dari sana. Apalagi bila itu dianggap sebagai penghasil devisa negara, maka tempat maksiat pun dilestarikan bahkan kalau bisa, diperbanyak, naudzubillah.

So, tidak ada jalan lain bila kita ingin menyelamatkan generasi muda dari kerusakan yang makin parah kecuali kembali pada aturan yang berasal dariNya. Dan aturan ini tidak akan mungkin sempurna dilaksanakan kecuali oleh sebuah sistem tertentu. Sistem ini tidak akan tegak jika semua muslim tidak ada yang berusaha untuk memperjuangkannya. Jadi, tidak ada pilihan lain jika ingin mulia di dunia dan akhirat, kita semua harus turut ambil bagian dalam perjuangan ini.
Wallahu a’lamu bisshawab.



Sumber tulisan:
---http://id.yahoo.com/
--- Buletin Gaul Islam edisi 051/tahun I (13 Syawal 1429 H/13 Oktober 2007)
---Buku Family Guideline 2

6 komentar:

  1. duh, ummu.. miris banget ngeliatnya.

    apakabar dunia kalo pemuda2nya uda jadi ayah dalam usia yang sedemikian belia??

    inilah akibatnya kalo mendidik anak dengan cara yang salah.

    Untunglah kita mengenggam Islam yang insya allah bakal memudahkan tugas kita sebagai ibu ya mu.. (kalo ana sih calon ibu, amiinn..)

    BalasHapus
  2. Astagfirulloh....

    Jazakillahu khoiro Ummu atas infonya.
    Prihatin membacanya Ummu, sedemikian rusaknya dunia ini dan semakin harus hati2 kita sebagai orangtua untuk membimbing dan mengarahkan anak2 kita. Satu yang pasti Ummu, ikuti petunjuk Alloh dan RosulNya dalam membina generasi penerus Islam, jangan pernah meremehkan satu dalil pun...

    Semoga segala kemunkaran, kerusakan dunia ini tidak menimpa anak-anak keturunan kita, Na'udzubillahi min dzalik...

    BalasHapus
  3. Miris banget membacanya, mbak. Apalagi melihat kenyataan di sekitar kita. Semua pengaruh buruk menghampiri anak kita. Dan banyak orang tua yang jengah mengajarkan pendidikan seks pada anaknya sejak dini. Padahal itu perlu.
    Lepas dari keprihatinan saya, ada satu hal yg membuat saya salut pada anak itu, mereka memutuskan tidak mengaborsi janin itu dan bertanggung jawab. Jadi mereka tidak enambah dosa yang jauh lebih besar, yaitu membunuh calon umat manusia. Semoga keputusan ereka tepat dan mampu mengajari yang lain betapa bahayanya freesex.

    BalasHapus
  4. Astaghfirullah...semoga kita sekeluarga dilindungi Allah SAW selamanya..amin

    BalasHapus
  5. Iya, memang miris banget. Apalagi melihat kenyataan bahwa di negara kitapun free sex dengan segala aktivitas nya mewabah di seluruh jenjang usia. Tua bangkotan, anak muda bau "kencur", dari anggota DPR hingga siswa SMP! Innalillahi...
    Kembali ke syariat Islam, hanya dengan itu kita akan mulia...

    BalasHapus
  6. mendidik anak sangat perlu untuk hati-hati, jangan sampai salah dalam mendidik anak sehingga membuat anak menjadi orang yang pesimis, minder dan lain-lain.karena didikan ortu dapat membentuk kepribadian anak.

    —————————————————-
    Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

    BalasHapus